Pengumuman, Waduh, Wall to Wall udah Gak Bisa Lagi ya ? ini Gara" ada Kebijakan Facebook untuk Mengalihkan Live Stream Menjadi Comment Box, Tapi Jangan Khawatir.. Update Status Via Blackberry dan yg lain masih Bisa koq, Mau tau apaan sih Comment Box itu ? Bisa Dilihat Disini, Nah, kalo ada Saran" ttg Gimana cara nge-akalin wall to wall, silahkan Contact Mimin di Facebook Disini atau Twitter @HzCrash, atau Bisa Lewat Fanspage WI Di Disini, Trima Kasih
Tampilkan postingan dengan label All About Moslem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label All About Moslem. Tampilkan semua postingan

Bagaimana Kita Seharusnya Memanfaatkan Waktu

Penulis on Minggu, 28 Oktober 2012

Bagaimana Kita Seharusnya Memanfaatkan Waktu



“Sungguh saya telah berjumpa dengan beberapa kaum, mereka lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga waktu mereka daripada kesungguhan kalian untuk mendapatkan dinar dan dirham” (Al-Hasan Basri)

Saudaraku, Waktu adalah salah satu diantara nikmat Allah yang paling berharga dan agung bagi manusia. Cukup bagi kita kesaksian Al-Qur’an tentang betapa agungnya tentang nikmat yang satu ini. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan tentang urgensi waktu, ketinggian tingkatannya, dan juga pengaruhnya yang besar. Bahkan Allah telah bersumpah dengan waktu dalam kitab-Nya yang mulia dan ayat-ayat-Nya yang luhur dalam konteks yang berbeda-beda. Allah yang urusan-Nya yang begitu agung telah bersumpah dengan waktu malam, siang, fajar, subuh, saat terbenamnya matahari, waktu dhuha, dan dengan masa.

Hanya orang-orang hebat dan mendapatkan taufik dari Allah, yang mampu mengetahui urgensi waktu lalu memanfaatkanya seoptimal mungkin. Dalam hadits, “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang (HR. Bukhari). Banyak manusia tertipu didalam keduanya, itu artinya, orang yang mampu memanfaatkan hanya sedikit. Kebanyakan manusia justru lalai dan tertipu dalam memanfaatkannya.

Saudaraku, Allah memberikan kita setiap hari “modal” waktu kepada semua manusia di muka bumi ini adalah sama, yaitu 24 jam sehari, 168 jam seminggu, 672 jam sebulan, dan seterusnya. Namun kenapa prestasi bisa berbeda? Dalam waktu yang sama, Mereka mampu berbuat dan berkarya seperti berikut:

  1. Rasulullah SAW : Dalam waktu 23 tahun bisa membangun peradaban Islam yang tetap ada sampai sekarang. Ikut 80 peperangan dalam tempo waktu kurang dari 10 tahun, santun terhadap fakir miskin, menyayangi istri dan kerabat, dan yang luar biasa adalah beliau seorang pemimpin umat yang bisa membagi waktu untuk umat dan keluarga secara seimbang!
  2. Zaid bin Tsabit RA : Sanggup menguasai bahasa Parsi hanya dalam tempo waktu 2 bulan! Beliau dipercaya sebagai sekretaris Rasul dan penghimpun ayat Quran dalam sebuah mush’af
  3. Abu Hurairah : Masuk Islam usia 60 tahun. Namun ketika meninggal di tahun 57 H, beliau meriwayatkan 5374 Hadits! (Subhanallah!)
  4. Anas bin Malik : Pelayan Rasulullah SAW sejak usia 10 tahun, dan bersama rasul 20 tahun. Meriwayatkan 2286 Hadits.
  5. Abul Hasan bin Abi Jaradah (548 H) : Sepanjang hidupnya menulis kitab-kitab penting sebanyak tiga lemari.
  6. Abu Bakar Al-Anbari : Setiap pekan membaca sebanyak sepuluh ribu lembar.
  7. Syekh Ali At-Thantawi : Membaca 100-200 halaman setiap hari. Kalkulasinya, berarti dengan umurnya yang 70 tahun, beliau sudah membaca 5.040.000 halaman buku. Artikel yang telah dimuat di media massa sebanyak tiga belas ribu halaman. Dan yang hilang lebih dari itu.
  8. Ibnu Jarir Ath-Thabari, beliau menulis tafsir Al-Qur’an sebanyak 3.000 lembar, menulis kitab Sejarah 3.000 lembar.Setiap harinya beliau menulis sebanyak 40 lembar selama 40 tahun.Total karya Ibnu Jarir 358.000 lembar.
  9. Ibnu Aqil menulis kitab yang paling spektakuler yaitu Kitab Al-Funun, kitab yang memuat beragam ilmu, adz-Dzahabi mengomentari tentang kitab ini, bahwa di dunia ini tidak ada karya tulis yang diciptakan setara dengannya. Menurut Ibnu Rajab, sebagian orang mengatakan bahwa jilidnya mencapai 800 jilid.
  10. Al-Baqqilini tidak tidur hingga beliau menulis 35 lembar tulisan.
  11. Ibnu Al Jauzi senantiasa menulis dalam seharinya setara 4 buah buku tulis. Dengan waktu yang dimilikinya, beliau mampu menghasilkan 2.000 jilid buku. Bekas rautan penanya Ibnul Jauzi dapat digunakan untuk memanasi air yang dipakai untuk memandikan mayat beliau, bahkan masih ada sisanya.
  12. Iman An-Nawawi setiap harinya berlajar 12 mata pelajaran, dan memberikan komentar dan catatan tentang pelajarannya tersebut. Umur beliau singkat, wafat pada umur 45 tahun, namun karya beliu sangat banyak dan masih dijadikan sumber rujukan oleh umat muslim saat sekarang ini.

Masih banyak lagi contoh-contoh luar biasa lainnya. Kenapa tidak banyak orang yang bisa menyamai mereka? Padahal waktu yang diberikan Allah kepada mereka sama dengan waktu yang diberikan Allah pada hambaNya yang lain? Jawabannya adalah kecerdasan manajemen waktu.

Saudaraku, bercermin kepada genarasi salafus shalih umat ini, dimana mereka telah menorehkan contoh-contoh yang mengagumkan dalam memanfaatkan waktu, detik-detik umur dan setiap hembusan nafas untuk amal kebajikan. Dengan mengetahui jalan hidup orang-orang saleh dan kesungguhan mereka mereka dalam memanfaatkan detik-detik umur mereka dalam ketaatan, memiliki pengaruh besar dihati seorang muslim, yaitu pengaruh dalam menumbuhkan dan membangun gairah untuk memanfaatkan waktu dan memaksimalkan deti-detik usia dalam perkara-perkara yang mendekatkannya kepada Allah. Mari kita telusuri kisah indah dan uniknya mereka dalam memaksiamalkan waktu:

Para genarasi salafus shaleh umat ini sangat bersemangat untuk menjaga waktu hingga dalam keaadaan sakit dan sakratul maut

Al Biruni, (362H—440H), seorang ahli ilmu falak dan ilmu eksakta, ahli sejarah, dan menguasai lima bahasa yaitu bahasa Arab, Suryani, Sanskerta, Persia dan India. Saat detik-detik terakhir hidup beliau, tetap mempelajari masalah faraidh (waris). Lalu seorang berkata kepada beliau, layakkah engkau bertanya dalam kondisi seperti ini? Beliau menjawab, kalau aku meninggalkan dunia ini dalam kondisi mengetahui ilmu dalam persoaalan ini, bukankah itu lebih baik dari pada aku hanya sekedar dapat membayangkannya saja, tidak tahu ilmu tentangnya. Tidak lama setelah itu beliau wafat.

Ibrahim bin Jarrah berkata, “Imam Abu Yusuf Al Qadli rahimahullah sakit. Saya Menjeguknya. Dia dalam keadaan yang tidak sadarkan diri. Ketika tersadar, dia berkata kepadaku, ‘hai Ibrahim, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?’ Saya menjawab, ‘Dalam kondisi ini seperti ini?’ Dia menjawab, ‘Tidak apa-apa, kita terus belajar. Mudah-mudahan ada orang yang terselamatkan karenanya.’ Lalu aku pulang. Ketika aku baru sampai di pintu rumah, aku mendengar tangisan. Ternyata ia telah wafat.”

Syaikh Ibnu Taimiyah selalu menelaah dan memetapi pelajarannya saat beliau sakit atau berpergian. Ibnu Qayyim berkata, Syaikh kami Ibnu Taimiyah pernah menuturkan kepadaku, “Ketika suatu saat aku terserang sakit, maka dokter mengatakan kepadaku,‘Sesungguhnya kesibukan anda menelaah dan memperbincangkan ilmu justru akan menambah parah penyakitmu’. Maka saya katakan kepadanya, ‘Saya tidak mampu bersabar dalam hal itu. Saya ingin menyangkal teori yang engkau miliki. Bukankah jiwa merasa senang dan gembira, maka tabiatnya semakin kuat dan bias mencegah datanya sakit?’ Dokter itu pun menjawab, ‘Benar.’ Lantas saya katakan, ‘Sungguh jiwaku merasa bahagia dengan ilmu, dan tabiatku semakin kuat dengannya. Maka, saya pun mendapatkan ketenangan.’ Lalu dokter itu menmpali, ‘Hal ini diluar model pengobatan kami.’

Mempersingkat waktu makan, serta mengurangi makan agar tidak selalu sering ke WC

Kesungguhan genarasi salafus shalih umat ini dalam memanfaatkan waktu sampai pada tingkat bahwa mereka merasa sayang dengan waktu yang dipakai untuk makan, maka mereka mempersingkat sebisa mungkin.

Dawud At-Tha’i rahimahullah memakan alfatit (roti yang dibasahi dengan air). Dia tidak memakan roti kering (tanpa dibasahi). Pembantunya bertanya, “Apakah anda tidak berhasrat makan roti?” Dawud menjawab, “Saya mendapatkan waktu yang cukup untuk membaca 50 ayat antara memakan roti kering dan basah.” (Sifatus Shafwah, 3/92)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menceritakan kepada kita, Ibnu Aqil berkata, “Aku menyingkat semaksimal waktu-waktu makan, sehingga aku lebih memilih memakan kue kering yang dicelup ke dalam air (dimakan sambil dibasahi) dari pada memakan roti kering, karena selisih waktu mengunyahnya (waktu dalam mencelup kue dengan air lebih pendek daripada waktu memakan roti keringi) bisa aku gunakan untuk membaca dan menulis suatu faedah yang sebelumnya tidak aku ketahui.” (Dia melakukan hal itu supaya bisa memanfaatkan waktu lebih). (Dzailut Thabaqatil Hanabilah, Ibnu Rajab,1/177)

Asy-Syamsul Ashbahani, (674H—749 H), seorang tokoh mahzab Syafii, pakar fiqih dan tafsir. Apa yang diceritakan tentang beliau menunjukkan antusiasnya terhadap ilmu dan ‘pelitnya’ beliau untuk menyia-nyiakan waktu. Sebagian sahabatnya pernah menuturkan bahwa beliau sangat mengindari makan yang banyak, yang tentunya akan butuh banyak minum, dan selanjutnya butuh waktu masuk WC. Sehingga waktu pun banyak terbuang. Lihatlah! bagaimana mahalnya waktu dalam pandangan imam yang mulia ini. Dan tidaklah waktu itu mahal bagi beliau melainkan karena betapa sangat mahalnya ilmu tersebut.

Memanfaatkan waktu perjalanan dengan membaca buku, berzikir, menuntut ilmu, bahkan menyampaikan hadist

Said bin Jabir berkata, “Saya pernah bersama Ibnu Abbas berjalan disalah satu jalan di Mekah malam hari. Dia mengajari saya beberapa hadis dan saya menulisnya diatas kendaraan dan paginya saya menulisnya kembali diatas kertas.” (Sunan Ad-Darimi, Imam Ad-Darimi, 1/105)

Tentang Al-Fath bin Khaqan, beliau membawa kitab dalam kantong bajunya. Apabila beliau bangun dari tempat duduknya untuk shalat atau buang air kecil atau untuk keperluan lainnya, beliau membaca kitabnya hingga sampai ke tempat ingin dia tuju. Beliau juga melakukan hal tersebut ketika kembali dari keperluanya. (Taqyiidul ‘Ilm, Al Khatib Al-Baghdadi)

Imam An-Nawawi tidak pernah menyia-nyiakan waktunya, baik di waktu siang atau pun malam, kecuali menyibukkan dirinya dengan ilmu. Hingga ketika beliau berjalan di jalanan, beliau mengulang-ngulang ilmu yang telah dihafalnya, atau membaca buku yang telah ditelaahnya sambil berjalan. Beliau melakukan itu selama enam tahun. (Tadzkiratul Huffaz, Adz-Dzahabi, 4/1472)

Ibnu Khayyath An-Nahwi, wafat tahun 320 H. Konon, beliau belajar di sepanjang waktu, hingga saat beliau sedang berada di jalanan. Sehingga terkadang, beliau terjatuh ke seleokan, atau tertabrak binatang. (Al-Hatstsu ‘ala Thalabil ‘Ilm wal ijtihad fi jam’ihi, Abu Hilal Askari, hal. 77)

Memanfaatkan waktu-waktu makan, saat istirahat, bahkan saat di Kamar kecil (WC) sekalipun untuk membaca atau mendengar ilmu

Ahmad bi Ali berkata kepada Abdur Rahman bin Abu Hatim Ar-Razi rahimahullah, “Apa penyebabnya Anda banyak mendengar hadis dari bapakmu? Dan Anda banyak bertanya kepadanya?” Dia menjawab, mungkin karena ketika dia makan, saya belajar hadis kepadanya. Ketika berjalan, saya belajar kepadanya. Ketika dia buang hajat, saya belajar kepadanya dan ketika dia masuk rumah untuk mencari sesuatu, saya belajar kepadanya.” (Siyar A’lamin Nubala, Imam Adz-Dzahabi,13/50)

Simaklah cerita Ibnu Aqil Hambli rahimahullah tentang bagaimana ia menjaga waktunya, “Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat saja dari umurku, sehingga apabila lisanku telah lelah membaca dan berdiskusi, mataku telah lelah membaca, maka aku menggunakan pikiran aku dalam keadaan beristirahat (berbaring di tempat tidur). Aku tidak akan berdiri, kecuali telah terlintas di benakku apa yang akan aku tulis. Dan aku mendapi kesungguhanku belajar ikmu dalam usia 80 tahun lebih kuat daripada apa yang kudapai ketika aku berumur 20 tahun.” (Al-Muntadzim fi Tarikhil Umam, Ibnu Jauzi, juz 9)

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Telah memberitahukan kepadaku saudara Syaikh kami, Abdur Rahman bin Abdul halim Bin Taimiyah dari ayahnya berkata, “Adalah kakek (yaitu Majdudin Bin Taimiyah) apabila ia masuk WC, dia berkata kepadaku, “Bacalah buku ini untukku, keraskanlah suaramu sehingga aku mendengarkannya.” Maka Ibnu Rajab mengomentari, “Hal ini menunjukkan akan kuatnya antusias beliau terhadap ilmu, sekaligus semangatnya untuk menggapainya, dan juga penjagaan beliau terhadap waktunya.” (Dzailuth Thabaqatil Hanabilah, Ibnu Rajab, 2/24)

Ibnu Nafis seorang ulama dan dokter terkemuka yang unggul, ia senantiasa menjaga setiap waktunya dan kesempatannya guna menorehkan ide dan pemikirannya, justru disaat-saat yang paling unik dan asing bagi yang lainnya. Beliau adalah pemuka dan orang yang terkemuka dalam ilmu kedokteran, dan memiliki banyak karya dalam bidang kedokteran. Diceritakan bahwa beliau mencatat sejumlah persoalan kedokteran disela-sela mandinya yaitu mengenai denyut nadi. Beliau lahir di Damaskus tahun 610H, dan wafat di Kairo pada tahun 687H. (Raudharul Jannat, Al-Khawanisari)

Melakukan dua aktivitas yang berbarengan sekaligus, untuk mengoptimalkan waktu-waktu yang tersedia

Sungguh Ulama salaf sangat berhati-hati sekali menjaga waktunya, mereka tidak akan membiarkan waktunya terbuang percuma dan berlalau sia-sia. Mereka cerdas dalam melakukan optimalisasi waktu. Meraka mampu merangkum dua kegiatan sekaligus dalam waktu yang berbarengan. Seperti yang telah disebutkan di atas, mereka berlajar sambil jalan, mendengarkan ilmu ketika di WC, memecahkan persoalan yang rumit disela-sela mandinya, membaca buku saat makan, berlajar disela-sela kesibukan dagang, memikirkan ide dan gagasan ilmu disaat berbaring di atas kasur, dan masih banyak lagi contoh-contoh yang mengagumkan tentang potret ulama salah dalam optimaliasisi waktu. Bahkan tetap memanfaatkan waktu, ketika memenuhi kewajiban mengadiri undangan, menerima tamu.

Ibnu Jauzi tetap bekerja tanpa meninggalkan berbicara saat dikunjungi tamu. Beliau menuturkan sendiri tentang bagaimana beliau memanfaatkan waktunya, “Saat saya menyadari bahwa waktu adalah sesuatu yang paling berharga, maka sudah menjadi kewajiban memanfatkan waktu tersebut untuk berbuat kebajikan. Maka saya tidak menyukai kebiasaan tersebut (maksudnya kebiasaan bertamu yang tidak membawa manfaat yang banyak terjadi didalamnya obrolan tak tentu arah, duduk berlama-lama), dan tidak suka berlama-lama dengan mereka, karena dua hal. Kalau saya menyalahkan mereka, maka akan terjadi kekurangakraban karena tindakan itu berarti memutus pertalian hati. Kalau saya mengikuti mereka, maka waktu terbuang sia-sia. Akhirnya saya berusaha mengindari pertemuan sebisa mungkin. Kalau saya kalah, maka saya cukup berbicara sedikit saja agar cepat berpisah. Kemudian saya sengaja menyiapkan berbagai pekerjaan sambil terus berbicara pada saat berjumpa dengan mereka, agar waktu tak terbuang sia-sia. Untuk menyiapkan pertemuan dengan mereka, saya sengaja memotong-motong kertas, meraut pensil, mengikat buku-buku. Karena semua itu adalah aktivitas yang memang harus dilakukan, tanpa harus berpikir dan berkosentrasi. Maka, semua pekerjaan itu saya siapkan untuk saat pertemuan dengan mereka, agar waktu saya tidak terbuang secara sia-sia.” (Saidul Khatir, Ibnu Jauzi)

Imam Sulaim Ar-Razi, ia wafat pada tahun 447 H. Beliau amat militan dalam menjaga sifat waranya. Beliau selalu melakukan introspeksi dalam soal waktu. Beliau tidak pernah membiarkan waktu berlalu tanpa manfaat, dengan terus menulis, mengajar, membaca tau menyalin ilmu dalam jumlah banyak. Abu faraj menuturkan, “Al-mualli bin hasan pernah menceritakan kepadaku bahwa ia melihat Sulaim Ar-Razi sedang memegang pena yang matanya sudah habis. Ia memotong kayu diujung penanya, sambil bibirnya bergerak-gerak. Al-Mu’amil akhirnya tahu, bahwa ia membaca sesuatu sambil memperbaiki penanya, sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia”. Yakni, saat kedua tangannya bekerja, beliau menggerak-gerakkan bibirnya untuk berzikir, agar tidak ada waktu berlalu sia-sia, tanpa melakukan ibadah kepada Allah. (Thabaqat Asy-Syafi’iyah Al-Wustha, Tajuddin As-Subki)

Ada ulama yang mensayatkan kepada orang yang mengundangnya ke acara walimahan agar disediakan baginya tempat yang agak lapang, guna meletakkan bukunya, yang akan beliau baca disela-sela mengadiri pesta tersebut. Kalau tidak ada, maka beliau lebih memilih tidak mengadiri acara tersebut.

Mengurangi tidur, dan mengisi malamnya dengan menuntut ilmu dan ibadah

Sebagian besar manusia waktu malamnya dimanfaatkan untuk tidur, jika pun tidak digunakan untuk tidur, mereka menggunakannya bergadang untuk hal-hal yang sepele, yang tidak membawa manfaat uyntuk dunia dan akhiratnya. Namun tidak bagi generasi salafus shaleh umat ini mereka menyadari kemulian zaman, mereka tahu akan hakekat waktu, waktu cepat berlalu, kalau berlalu tidak akan bisa kembali lagi. Mereka menyadari bahwa umur itu singkat, waktu boleh sama tapi prestasi harus beda. Tidak ada jalan lain bagi mereka selain mengurangi tidur mereka.

Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani tidak tidur malam kecuali sangat sedekit sekali. Beliau adalah seorang imam ahli fikih, ahli ijtihad dan ahli hadis. Beliau lahir tahun 132H, dan wafat 189H. Konon beliau sering tidak tidur malam. Beliau biasanya meletakkan beberapa jenis buku disisinya. Bila bosan membaca satu buku, beliau akan menelaah yang lain. Beliau menghilangkan rasa kantuk dengan air, sembari berujar, “Sesungguhnya tidur berasal dari panas”. (Miftahus Sa’adah wa Misbahus Siyadah, I:23)

Gurunya Imam An-Nawawi berkata tentang Al-Hafizh Al-Mundziri, “Saya belum pernah melihat dan mendengar seorang pun yang paling bersungguh-sungguh dalam menyibukkan diri dengan ilmu selain dirinya. Ia senantiasa sibuk di waktu malam dan siang hari. Saya pernah berdampingan dengannya di sebuah madrasah di Kairo. Selama 12 tahun, rumahku berada di atas rumahnya. Selama itu pula saya belum pernah bangun malam pada setiap jammya, melainkan cahaya lampu senantiasa menyala di rumahnya, sedangkan ia hanyut dalam ilmu. Bahkan ketika makan pun ia sibuk dengan ilmu.” (Bustanul Arifin, Imam Nawawi)

Imam An-Nawawi sorang imam yang terkemuka, Syaikhul Islam, dan banyak menghasilkan karya tulis. Beliau datang ke Damaskus pada tahun 649H dan menetap disana yaitu di Madrasah Ar-Rawahiyah. Beliau berkata tentang diri beliau, “Saya menetap disana selama dua tahun. Selama itu, saya nyaris tidak pernah tidur.” Beliau berhasil menghafal kitab At-Tanbih selama 4,5 bulan dan membaca seperempat kitab Al-Muhazzab dengan hafala.” (Tadzkiratul Huffaz, Adz-Dzahabi)

Inilah keadaan orang-orang shaleh dan kisah-kisah mereka, beginilah seharusnya kita memanfaatkan setiap detik waktu kita. Lalu bagaimana dengan kita? Saudaraku, mereka beruntung sementara engkau terlelap. Mereka meraih kemenangan, sementara engkau meraih tangan kosong. Maka segera kita manfaatkan detik-detik umur kita, tekadkan dalam hati bahwa hari ini kita akan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, memandang setiap kesempatan adalah penting. Mari persembahkan karya yang paling baik dan bermanfat, di usia kita yang pendek ini.

Sumber


Rating: 5
More aboutBagaimana Kita Seharusnya Memanfaatkan Waktu

Bahaya Narkoba dari Kaca Mata Islam

Penulis on Sabtu, 04 Februari 2012

Sebuah Keprihatinan Terhadap Korban Narkoba

Oleh:
Ahmad Ilyas SAg

Di saat negara kita tertimpa krisis ekonomi, sosial dan politik, kabarnya justru banyak pemakai benda-benda terlaknat (memabukkan) yang meliputi minuman keras, narkotika dan pil-pil setan serta obat-obat terlarang, laksana air bah yang tidak terbendung. Padahal kita ketahui, tidak ada satupun agama di bumi ini yang memandang baik para pemakai benda-benda tadi, bahkan sangat mencela para pelakunya.


Dr Abd Wahab Khalil dalam majalah “Kebudayaan Islam” memberikan penjelasan: “Jika kita tanyakan kepada seluruh ulama di bidang agama, atau di bidang kedokteran, moral (etika), ataupun ekonomi tentang soal minuman keras ini, maka jawaban mereka sama, yaitu melarang minum minuman keras secara tegas”.

Menurut Imam Adz-Dzahabi; semua benda yang dapat menghilangkan akal (jika diminum atau dimakan atau dimasukkan ke badan), baik ia berupa benda padat, ataupun cair, makanan atau minuman, adalah termasuk khamr, dan telah diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sampai hari kiamat.
Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan, maka jauhilah perbuatan itu agar kamu beruntung. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbul-kan permusuhan dan kebencian di antaramu lantaran minum khamr dan berjudi, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat, maka berhentilah kamu mengerjakan perbuatan itu”. (Al-Ma’idah: 90-91).

Bila kita melihat kenyataan yang terjadi di sekitar kita akan tampak, pemakaian narkoba ini melahirkan tindak kriminal yang banyak. Perbuatan jahat seperti mencopet, mencuri, merampok sampai membunuh dan tindakan amoral seperti perzinaan, pemerkosaan serta pelecehan seksual lainnya, tidak sedikit yang diakibatkan pemakaian benda terlaknat tersebut. Pantaslah jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jauhilah oleh kalian khamr, karena sesungguh-nya ia adalah induk segala kejahatan”.(HR. Al-Hakim, dari Ibnu Abbas).

Khamr dapat mengancam kehidupan manusia, karena dapat mengakibatkan bahaya yang tidak kecil, seperti penyakit paru-paru. Ia juga sangat membahayakan tubuh karena dapat melemahkan daya imunitas (kekebalan tubuh) terhadap penyakit, dan berpengaruh terhadap organ tubuh khususnya terhadap liver (hati), juga bisa melemahkan intensitas kerja syaraf. Karenanya, tak ayal lagi khamr merupakan sebab utama dari berbagai macam penyakit syaraf, juga merupakan faktor terpenting penyebab kegilaan, kesengsaraan dan tindakan kriminal.

Di bawah ini adalah keterangan-keterangan dari Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang celaan terhadap pemakai narkoba:
Pertrama, para pemakai narkoba seperti penyembah berhala. Dalam suatu riwayat disebutkan: “Barangsiapa minum khamr tidak sampai mabuk maka Allah berpaling darinya selama empat puluh malam, dan barangsiapa minum sampai mabuk tidak diterima sedekah dan perbuatannya, selama empat puluh malam, dan apabila ia mati (dalam keadaan demikian maka ia mati) seperti (matinya) penyembah berhala, dan Allah pasti memberikan minuman Thinatul Khabal “. Lalu para sahabat bertanya: “Apakah Thinatul Khabal itu wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Yaitu air) perahan tubuh penghuni neraka (yaitu) nanah dan darah”.

Kedua, para pemakai narkoba apabila mati sebelum bertaubat tidak akan masuk surga.
Dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar radhiallahu anhu, Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga siapa yang durhaka kepada kedua orang tua dan tidak pula para peminum khamr”. (HR. Nasa’i, Ahmad, Al-Bazar, Al-Hakim dengan sanad yang shahih).
Dan dalam riwayat yang lain disebutkan, yang artinya: “Tiga golongan yang diharamkan Allah atasnya surga, (yaitu) peminum khamr, yang durhaka kepada kedua orang tua, dan dayyuts yaitu yang membiarkan kemungkaran pada keluarganya”. (Musnad Al-Imam Ahmad No.6059 dari Salim bin Ibnu Umar).

Ketiga, barangsiapa yang mabuk tidak diterima salatnya. Dari Abdullah bin Umarzia berkata: Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa minum khamar di dunia, Allah tidak menerima salatnya 40 hari (arba’iina shobaahan) , lalu apabila ia bertobat maka Allah menerima tobatnya. Lalu apabila ia kembali (minum khamar) maka Allah tidak menerima salatnya 40 hari. Lalu apabila ia bertobat maka Allah menerima tobatnya, lalu apabila ia kembali (minum khamar) maka Allah tidak menerima salatnya 40 hari. Lalu apabila ia bertobat, Allah menerima tobatnya. Lalu apabila ia kembali (minum khamr) yang keempat kalinya maka Allah tidak menerima salatnya 40 hari, lalu apabila ia bertobat maka Allah tidak menerima tobatnya, dan memberinya minum dari sungai nanah dan darah.” (HR At-Tirmidzi dan dihasankannya, kemudian dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 6312).

Keempat, para peminum khamr hilang kesempurnaan imannya. “Tidaklah mencuri si pencuri sedang ia mukmin (dengan keimanan yang sempurna), dan tidaklah berzina orang yang melakukan zina sedang ia mukmin (dengan keimanan yang sempurna), dan tidaklah minum khamr si peminum sedang ia mukmin (dengan keimanan yang sempurna)”.(HR Bukhori, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i).

Kelima, orang-orang yang terlibat dalam khamr ini semuanya terlaknat. Dari Ibnu Abbas radhiallaahu anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jibril telah datang kepadaku dan berkata: “Wahai Muhammad sesungguhnya Allah telah melaknat (dalam masalah khamr) ini adalah produsen (pembuatnya), distributor (pengedarnya), penjual-nya, pembelinya, peminumnya, pemakan uang hasilnya, pembawanya, yang dibawakan untuknya, penuangnya, (orang) yang dituangkan (khamr) untuknya”. (Diriwayatkan Imam Ahmad dengan sanad shahih, dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, serta Al-Hakim, dan dikatakan shahih oleh Mundziri). (*)

Penulis Ketua PERSIS Medan Johor,
Ketua GM Pro DPD PKS Medan dan Staf Pengajar/Guru SD Islam An Nizam Medan

Source : http://www.hariansumutpos.com/2012/02/25554/bahaya-narkoba-dari-kaca-mata-islam.htm

Rating: 5
More aboutBahaya Narkoba dari Kaca Mata Islam

Rasisme dan Bagaimana Islam Menghadapinya

Penulis on Kamis, 02 Februari 2012

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Rum 22)

Kita semua mungkin sudah hafal diluar kepala, bahwa rasisme merupakan faham yang sangat ditentang dalam scene Punk/HC, khususnya para pengusung anarkisme. Hampir setiap literatur berupa zine-zine lokal tentang anarkisme dan punk membahas soal penolakan mereka terhadap faham diskriminatif ini. Karena memang dalam pandangan umum yang manusiawi, rasisme layak untuk ditentang.

Rasisme berpikir bahwa ras tertentu adalah superior, diatas ras lainnya. Dalam kata lain, rasisme mengajarkan bahwa ras lain selain ras-nya adalah lebih rendah derajatnya dan layak untuk diperlakukan semena-mena, ditindas, dan dianiaya.

Di Palestina, etnis Arab disana sudah menjadi korban kekerasan rasial sejak tahun 1944 oleh kekejaman etnis Yahudi yang merasa ras-nya superior (zionis). Etnis Arab disana berpuluh-puluh tahun merasakan diusir dari kampung halamannya sendiri, rumah-rumah mereka digusur, sawah-ladang mereka dilindas dengan mesin-mesin berat Caterpillar, yang melawan itu semua harus bersiap menjemput ajal. Para etnis Yahudi garis keras yang rasis tersebut menyebarkan isu-isu rasial yang luar biasa kental dengan aroma kebencian. Hingga akhirnya terus bermunculan tragedi-tragedi pemberangusan etnis Arab di Palestina demi berdirinya negara mereka, Israel.

Kita bisa dengan mudah melihat dokumentasi-dokumentasi pembantaian rasial yang dilakukan tentara Israel kepada warga palestina di youtube. Tinggal ketik saja kata kunci “Sabra Shatila massacre” atau cari saja dokumen lain di Google tentang itu. Didalamnya kita bisa menatap dengan jelas bagaimana anak-anak kecil etnis Arab dipukuli tentara Israel tanpa ampun, ayah-ibunya digorok didepan mata, sampai mengubur hidup-hidup seluruh warga desa. Yang lebih sadis, tentara-tentara rasis tersebut mengumpulkan warga kedalam satu rumah, lalu diledakkan dengan bom.

Bangsa Yahudi sendiri mengaku menjadi korban rasisme pada paruh abad ke-20. Mereka juga pernah mengalami pembantaian besar-besaran dan pemusnahan ras oleh Nazi. Terlepas dari konspirasi lebay yang dilakukan orang-orang Yahudi demi mengambil belas-kasihan dari warga dunia atas tragedi holocaust itu, nyatanya saat ini justru bangsa Yahudi (garis keras) sendiri yang melakukan praktek kekerasan yang lebih parah dan brutal kepada etnis lain (baca: Arab).

Dalam sumber lain, orang-orang Barat sering merepresentasikan etnis Arab dengan figur-figur yang buruk dalam film-filmnya. Dalam buku berjudul “Reel Bad Arabs: How Holywood Vilifies a People”, Jack Shaheen, penulis buku ini mengungkap ratusan film Holywood yang berusaha mencitrakan buruk etnis Arab didalamnya. Sutradara-sutradara Holywood berusaha membuat stereotip negatif bahwa orang Arab itu bodoh, tergila-gila dengan uang, suka main perempuan, jahat, licik, suka hura-hura, dan cenderung emosional. Dan hal itu bukan cuma dicitrakan kepada pemirsa dewasa saja, namun juga sudah mulai dicitrakan kepada audiens yang masih anak-anak sekalipun melalui film-film kartunnya. Upaya pencitraan tersebut jelas adalah praktek rasisme yang nyata di Barat.

Selain etnis Arab yang menjadi sasaran diskriminasi rasial di Barat, ada juga orang kulit hitam. Di Amerika misalnya, orang kulit hitam selalu menjadi bulan-bulanan dimana-mana. Meski saat ini presiden mereka berasal dari kulit hitam, hal itu tidak mengubah dengan mudah stereotip yang sudah mengakar dalam masyarakat. Begitu pula dengan sejarah perampasan tanah milik orang-orang Indian (kulit merah) yang dilakukan imperalis Amerika juga tidak luput dengan motif rasisme.

Sebelum tulisan ini saya lanjutkan, ada dua hal yang mesti saya jelaskan secara singkat. Pertama, perlu kita ketahui, memang tidak seluruh orang yahudi selalu menganut rasisme dan fasisme layaknya zionis. Karenanya saya tidak akan membahas umat Yahudi yang “baik-baik saja”. Saya akan lebih fokus pada mereka yang mempraktekkan rasisme kepada etnis Arab saja. Kedua, saya tidak sedang melihat hal ini dari sisi hak asasi manusia. Karena menurut saya itu sudah terlalu banyak yang membahas. Orang-orang penganut liberalisme dan sosialisme sudah biasa menggunakan parameter itu. Kali ini saya akan sedikit membahasnya dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu menurut agama saya, Islam. Dan mungkin juga agama anda, yang sudah anda anut puluhan tahun sejak kecil lalu terabaikan begitu saja.


Rasisme dalam pandangan Islam.

Didalam ajaran Islam sama sekali tidak memberikan celah untuk praktek rasisme. Islam sangat mengecam dan mengikis habis berbagai bentuk penindasan atau penzaliman atas nama ras. Dalam Al-Quran Surat Ar-Rum ayat 22 dijelaskan bahwa manusia diciptakan berbeda-beda rupa dan warna kulitnya, serta masing-masing memiliki bahasa dan budaya sendiri. Adanya keanekaragaman ras, etnis dan suku justru seharusnya bisa mendorong manusia untuk saling mengenal satu sama lain, saling menghargai dan menghormati, dan saling melindungi (lihat QS. Al Hujuraat 13). Disamping itu dalam surat lain ditambahkan agar kita bisa saling bekerjasama, tolong menolong dan bahu-membahu dalam meraih kebahagiaan,serta mengatasi masalah bersama (lihat QS. Al Maidah 2).

Islam menganggap kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa tinggi derajat ras atau silsilah nenek moyangnya, namun ukuran kemuliaan dilihat dari seberapa besar ketaqwaannya (lihat QS. Al Hujuraat 13). Karenanya Islam juga melarang keras perilaku mengejek, melecehkan atau menjatuhkan ras lain.

Islam juga menekankan perintah untuk berlaku adil dan baik kepada manusia, apapun rasnya dan tidak diperkenan berbuat zalim, munkar, keji dan melampaui batas (ghuluw)(QS. An Nahl 90). Dalam Surat Al-Isra’ 33, bahkan ada larangan keras membunuh manusia tanpa alasan yang dibenarkan. Jangankan membunuh, melakukan penindasan saja sudah diharamkan, merampas hak orang lain pun demikian.

Bukti-bukti yang ada tentang agama-agama didunia, Islam adalah satu-satunya agama yang dengan tegas menentang dan berupaya melepaskan manusia dari belenggu perbudakan. Bagi anda yang bukan beragama Islam, mungkin bisa saja mengatakan tulisan ini cuma “ngecap” yang selalu bilang nomor satu. Tapi bukti-bukti sejarah-lah yang berbicara. Dalam Islam, jika ada yang bisa membebaskan budak, maka disediakan ganjaran yang luar biasa besar oleh Allah Swt. Ketika Rasulullah Saw masih hidup, beliau gencar mengkampanyekan pembebasan budak. Tidak sedikit para sahabat yang berlomba-lomba memerdekakan budak ketika itu. Rasulullah Saw sendiri membebaskan 63 budak selama hidupnya. Istri beliau, Aisyah r.a. memerdekakan 67 budak. Abdullah bin Umar, membebaskan 1000 orang budak, dan yang luar biasa Abdurrahman bin Auf sampai membeli 30.000 budak kemudian dimerdekakan.

Ketika Rasulullah Saw melakukan haji yang terakhir kalinya (yang dikenal sebagai Haji Wada’), beliau Saw berkhutbah dengan pesan-pesan yang luar biasa hikmahnya. Khutbah ini begitu menggetarkan hati karena para sahabat mulai merasa bahwa khutbah tersebut adalah khutbah perpisahan sebelum beliau Saw meninggal dunia. Waktu itu di bukit Arafah, tepat pada hari Jumat, 9 Dzulhijjah 10 Hijriah, disaksikan ribuan jamaah haji lainnya, beliau berkata,”Wahai manusia, dengarlah baik-baik. Aku tidak tahu apakah tahun depan aku masih dapat bersama kalian. Simaklah apa yang akan aku katakan dan sampaikanlah kepada mereka yang tidak dapat hadir saat ini….Setiap manusia adalah anak Adam dan Hawa. Orang Arab tidak lebih istimewa dari orang selain Arab. Demikian pula orang kulit putih tidak lebih istimewa dibanding orang kulit hitam. Dan orang kulit hitam tidak lebih istimewa dibanding orang kulit merah; kecuali karena taqwa dan amal shalihnya. Ketahuilah bahwa setiap muslim adalah saudara bagi orang muslim lainnya. Tidak boleh ia mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali dengan izin dan ridhanya. Jangan kalian saling menzalimi. Ingatlah satu hari nanti kalian akan bertemu Allah dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kalian.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibban, dll)

DR. Syamsuddin Arif, seorang pemikir Islam yang berdomisili di Malaysia, pernah menulis tentang makna khutbah ini:

“Khutbah ini merupakan menumen dalam sejarah pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi manusia (HAM), dideklarasikan 1300 tahun silam sebelum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia pada 10 Desember 1948.”

Memang kita bisa memaknai secara langsung bahwa 1400 tahun yang lalu Rasulullah Saw sudah menolak tindakan rasisme dalam bentuk apapun. Mulai superioritas sampai diskriminasi dan perampasan hak. DR. Syamsuddin Arif juga menambahkan, bahwa Rasulullah Saw menyeru tentang kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan jauh lebih awal sebelum Revolusi Perancis meneriakkan jargon “liberte, egalite, fraternite.” Ini juga berarti apa yang dilakukan Rasulullah Saw dan para sahabat terhadap kebebasan hak-hak setiap manusia merupakan aksi yang sangat revolusioner. Bahkan lebih revolusioner dibandingkan revolusi apapun yang pernah ada didunia setelah itu.

sumber: http://www.undergroundtauhid.com/rasisme-dan-bagaimana-islam-menghadapinya/
More aboutRasisme dan Bagaimana Islam Menghadapinya

7 Keajaiban Dunia Versi Islam

Penulis on Jumat, 20 Januari 2012

7 Keajaiban Dunia Versi Agama Islam - 

Menara Pisa, Tembok Cina, Candi Borobudur, Taaj Mahal, Ka’bah, Menara Eiffel, dan Piramida di mesir, inilah semua keajaiban dunia yang kita kenal. Namun sebenarnya semua itu belum terlalu ajaib, karena di sana masih ada tujuh keajaiban dunia yang lebih ajaib lagi. Mungkin para pembaca bertanya-tanya, keajaiban apakah itu?

Memang tujuh keajaiban lain yang kami akan sajikan di hadapan pembaca sekalian belum pernah ditayangkan di TV, tidak pernah disiarkan di radio-radio dan belum pernah dimuat di media cetak. Tujuh keajaiban dunia itu adalah:

1. Hewan Berbicara di Akhir Zaman
Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,

"Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami".

Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, "Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu".[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]


Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

"Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]



2. Pohon Kurma yang Menangis
Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis? Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu ‘anhu- bertutur,
"Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: "Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut" .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]
Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata,

"Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya)". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]


3. Untaian Salam Batu Aneh
Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya,

Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-"Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang".[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)]. bersabda,


4. Pengaduan Seekor Onta
Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengungkapkan perasaannya.

Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”.


Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]


5. Kesaksian Kambing Panggang
Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:
Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata,


"Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun". Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), "Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?" Wanita itu menjawab, "Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu". Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,"Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]

6. Batu yang Berbicara
Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

"Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, "Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, "Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat".[Lihat Fathul Bari (6/610)]

7. Semut Memberi Komando
Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,


"Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata".Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".An-Naml: 16-19). (QS.


Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan "Tujuh Keajaiban Dunia" yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin


sumber: http://nur-muslim.blogspot.com/2012/01/7-keajaiban-dunia.html
More about7 Keajaiban Dunia Versi Islam

Bapak Tua Penjual Amplop

Penulis on Minggu, 15 Januari 2012




Assalamualikum...
Artikel bagus, semoga bermanfaat...

Bapak Tua Penjual Amplop Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya.
Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat.

Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya.
Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini.

Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop.
Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba.
Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya.
Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur.
Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya

Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi.
Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu.

“Seribu”,

jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya.
Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti.
Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu.

“Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak.
Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar perbungkusnya ke dalam bekas kotak amplop.
Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.
Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu.
Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu.
Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop.

Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir.
Tertulis dikwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500.

“Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya.

Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua.
Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa.
Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan.

Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang.
Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis.

Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata.
Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook yang bunyinya begini:

“bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi."
Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap..”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka.

Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.
Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat

Para pengemis itu mengerahkan anak- anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu. Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya.
Mungkin pada hari Jumat pekan- pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.



sumber: seorang kawan di grup fb http://www.facebook.com/groups/78955924242/
More aboutBapak Tua Penjual Amplop

Cara Mendidik Anak Menurut Islam

Penulis on Selasa, 11 Oktober 2011

Cara Islam Adalah Cara Alami Dalam Mendidik Buah Hati

Segala puji bagi Allah ta’ala yang senantiasa melimpahkan penjagaan terbaik-Nya kepada kita, membimbing kita dalam menunaikan amanah-amanah sepanjang waktu, selalu mencurahkan kasih sayang setiap detik nan terlewati.

Buah hati yang merupakan permata dunia selalu dirindukan oleh semua orang tua di dunia. Bahkan di Eropa tatkala para wanitanya mengalami ketakutan melahirkan atau tidak ingin hamil serta melahirkan, tetaplah mereka merindukan buah hati, lantas jalan ‘pintas’ diambil, yaitu mengadopsi, yang mana anak yang diadopsi benar-benar secara sah (di mata hukum negeri tersebut) merupakan anak ‘hak milik’ keluarga yang mengadopsinya, tak boleh diganggu gugat oleh orang tua kandung si anak sampai kapan pun. Meskipun di mata Allah SWT, hal itu tidak sah, yah karena sifat ‘mau enaknya doang’ adalah sifat kebanyakan manusia, maka budaya adopsi masih terus terjadi.

Padahal anak-anak yang ‘merasa dimiliki’ tersebut, biasanya diletakkan di tempat penitipan bayi jika kedua orang tua bekerja. Sedari kanak-kanak, diarahkan untuk memiliki beragam atraksi dan ragam keahlian yang gunanya untuk ‘membanggakan orang tua’.

Dalam momen “Friday Nasiha”, brother Abdul Wahid Hamid mengingatkan kaum ibu sholihat agar tidak terwarnai budaya ‘trend-trend-an’ ketika mendidik anak. Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam telah menjadi teladan sepanjang zaman, termasuk cara bersikap yang dicontohkan beliau dalam mendidik anak-anak. Cara islam merupakan cara alami, dan tetap yang terbaik.

Dalam tarbiyyah anak-anak, “Duhai ibu dan bapak, kita harus ingat bahwa anak-anak sering belajar dari contoh. Perilaku yang tepat dan contoh dari orang tua sangat penting dalam membesarkan anak-anak”. Orang tua yang mengharapkan anak-anak mereka untuk berdisiplin dan bekerja keras, yang harus terlebih dahulu disiplin & bekerja keras adalah sang orang tua. Orang tua yang mengharapkan anak-anak mereka untuk jujur, maka kita sebagai orang tua berupaya menerapkan kejujuran diri dan memperhatikan pengaruh pertemanan yang terbiasa jujur.

Dulu saya pernah mencetuskan omongan, “Saya ingin anakku ini cerdas dan nantinya khatam al-qur’an…” Lantas adik juniorku masa kuliah pun mengingatkan, “Naaah, Ummi… Kalau mau anaknya khatam qur’an, ayah ibunya juga khatam qur’an duluan donk…hehehehe”, Subhanalloh, benar juga, alangkah egoisnya diri ini kalau mau ‘nitipin anak’ ke pesantren demi khatam qur’an, tapi ayah ibunya masih punya hafalan qur’an yang itu-itu saja. Astaghfirulloh… 

Juga perlu diingat bahwa pengobatan yang diberikan kepada anak-anak di tahun-tahun awal kehidupan mereka dapat memiliki efek luas pada keadaan mental dan emosional di kemudian hari.

Tradisi suntikan meningkatkan daya tahan tubuh tidak dicontohkan oleh nabi kita, beliau rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam melakukan cara alami dengan tahnik kurma, orang tua pun selanjutnya menjadi ‘tim solid’ ketika masa awal kehidupan anak untuk ‘lulus ASI’, tak mudah menata hari dengan beragam amanah lainnya, hingga sistem pencernaan ananda menjadi lebih kuat dan stabil. Namun pasti kebahagiaan mengaliri jiwa, menjadi orang tua yang dapat mendekap anak-anak dalam keseharian, memetik senyum kala lelah menerpa.

Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam pernah berwasiat agar etika orang tua teladan yang perlu diperhatikan adalah “jadilah dermawan, baik dan mulia di mata anak-anak, serta berprilaku yang indah”, sebab kebiasaan baik tersebut pasti dicontoh sang anak.

Berbahagialah menjadi orang tua, dan bahagiakan anak-anak. Mereka ceria dan bahagia, kemudian tumbuh kembang mereka dihiasi dengan suka cita, tentu hal ini lebih baik dibandingkan dengan pukulan dan terror ketakutan semisal hukuman fisik yang berlebihan.

Seorang Ibu di negeri tetangga pernah menampar anaknya di depan guru sekolah, Ibu itu mencak-mencak, ‘menghakimi kebodohan’ sang anak karena memperoleh nilai merah di raport akademisnya. Kata-katanya kotor, emosi tak terkontrol.

Sungguh sedih melihat si anak menangis, padahal selain mempermalukan sang anak, si Ibu tak menyadari, “Kemanakah engkau saat waktu belajar bagi sang anak, pernahkah engkau mendampinginya mengerjakan Pe-Er dan tugas sekolah lainnya, Bunda?” Ibu tersebut berpikir bahwa dia sudah ‘membayar guru, les yang bermacam-macam, dll’ untuk pendidikan anak, maka dia maunya “hasil raport tidak merah”, dan hasil raport itulah yang akan membuatnya bangga pada si anak.

Padahal ‘raport akhirat nanti’ jauh lebih penting. Kita harus jujur mengucapkan kata maaf jika pernah berbuat salah pada ananda, sebagaimana kita menginginkan sikap benar dan jujur menghiasi hidup mereka. Kita tunjukkan prilaku lemah lembut, sopan, saling tolong antar sesama dan pengembangan sikap kebiasaan tersebut pada anak-anak merupakan prestasi besar nan amat mahal.

Kebersihan dan rapi pun telah diajarkan dalam tata cara mendirikan sholat bagi kita, anak-anak yang khidmat shalatnya ternyata bisa berpengaruh dalam khidmat memperhatikan pelajaran dalam kelasnya. Subhanalloh, kaum non-muslim pun di Krakow ini ‘punya tradisi’ berdo’a terlebih dahulu sebelum tahun pelajaran sekolah dimulai, juga sebelum pelajaran harian dimulai, (mereka menyadari bahwa khidmatnya berdo’a akan tetap terbawa fokus perhatian terhadap pelajaran di kelas) dan selalu sulungku tidak mengikuti kelas berdo’a tersebut, Alhamdulillah ia telah memahami ‘perbedaan dirinya’ sebagai satu-satunya muslim di sekolah.

Dan ternyata sulungku itu sering sholat di ruang bermain sekolah, dan beberapa teman bertanya tentang ‘aktivitas apakah’ yang barusan dilakukannya, koq seperti berolah raga(sampai ada teman yang mengikuti gerakan sholat di belakangnya), ia jelaskan berdasarkan pengetahuannya sendiri bahwa ‘ini sholat, karena aku muslim’. Yah, kita do’akan saja semoga anak-anak tersebut memperoleh cahaya Islam suatu hari nanti, aamiin.

Anak-anak muslim mengembangkan adab dan etika islam dengan meniru orang tua dan gurunya: kapan dan bagaimana untuk saling menyapa, mendengarkan ragam suara alam, observasi, membaca, menuliskan isi hati, membersihkan diri usai urusan toilet, kapan saatnya diam dan memperhatikan lawan berbicara, serta kapan saatnya bersemangat bermain, dll, sadar atau tidak, melihat tindak tanduk anak-anak sering kita cetuskan melalui kalimat, “ih, mirip ayahnya…” atau “nah, kalau lagi begitu, mirip ibunya…” Tak masalah ‘seperti ayah atau ibu’, yang bermasalah adalah jika Ayah atau Ibu berprilaku tidak ‘seperti’ yang dicontohkan dalam Al-Qur’an.

Disarankan bahwa anak-anak akan diajarkan sedari usia dini untuk membaca Al Qur'an, malu-lah kita jika sebagai orang tua malah tak bisa membaca Al-Qur’an. Pada usia dini, mereka memiliki kapasitas untuk menghafal dan secara umum banyak anak dan pemuda menghafal seluruh bagian atau sebagian besar dari Qur’an, kemudian makin hari meningkatkan pemahaman akan makna-maknanya.

Sejak usia tujuh tahun, beliau Nabi sallallahu ‘alayhi wasallammerekomendasikan bahwa anak-anak harus membiasakan melakukan shalat dan pada usia sepuluh mereka harus diwajibkan untuk melakukannya secara teratur. Sepenuh-penuhnya jadwal meningkatkan keterampilan duniawi, anak harus paham bahwa sholat merupakan tiang agama, pelaksanaannya harus di awal waktu.

Anak-anak yang kreatif, inovatif dan percaya diri adalah anak-anak yang melihat kepercayaan diri yang tinggi dari orang tua mereka. Lagi-lagi, kita ngomong sampai berbusa pun, belum tentu tausiyah kita dicerna sang anak. Mereka ‘langsung mencerna’ sikap, akhlaq keseharian kita. Dan suatu hari nanti mereka mengerti bahwa anak-anak dan orang tua adalah sama-sama belajar.

Di tengah hiruk pikuknya ragam metode pendidikan anak, tarbiyyah yang tepat adalah bahwa anak-anak harus selalu mencintai Islam, cinta kepada Allah ta’ala dan Nabi-Nya (sallallahu ‘alayhi wasallam) dan bahwa mereka dapat mengembangkan rasa bangga menjadi Muslim dan kemauan untuk berjuang, sebab hidup merupakan jalan perjuangan.
Kita sebagai orang tua memiliki banyak khilaf dan sangat lemah, maka kita ajak mereka kepada ajaran rambu-rambu-Nya nan sempurna. Mereka kelak menyadari bahwa hidup dengan nilai-nilai islam adalah kebutuhan, dan kita harap ‘tak ada kebutuhan lain’ yang menjadi pelepas dahaga mereka, selain kebutuhan pada bimbingan Allah ta’ala, itu kebutuhan alami seluruh manusia. Wallahu’alam bisshowab.
(bidadari Azzam, @ Krakow, malam 11 okt’2011) Penulis adalah koordinator muslimah-Islamic Centre Krakow, Poland.
More aboutCara Mendidik Anak Menurut Islam

Membongkar Wikileaks, Konspirasi Zionis Yahudi Israel dan Agen BIN dalam Mengaborsi Gerakan Islam

Penulis on Sabtu, 10 September 2011


Ormas Islam kembali diobok-obok oleh tangan-tangan jahil yang membenci tegaknya syariat Islam. Kali ini Front Pembela Islam (FPI) yang menjadi sasaran tembak. Pejabat senior BIN, Yahya Assegaf menjadi mata-mata bagi Kedubes AS di Jakarta. Wikileaks mengumbar telegram rahasia yang mengungkapkan Yahya Assegaf mencoba menyusup ke FPI namun gagal, lalu memfitnah FPI sebagai ‘attack dog’ Polri. Ada apa di balik ini semua? Berikut wawancana eksklusif dengan Munarman, SH., selaku Ketua Dewan Pengurus Pusat Front Pembela Islam (FPI) di kantor beliau, Senin (5/09/2011).


Arrahmah.com (AR) : Assalamu’alaikum.wr.wb!

Munarman (MR) :
 Wa’alaikumussalam.wr.wb!

AR : Sebelumnya Taqabbalallahu minna wa minkum, Bang!

MR : Taqabbal Ya Kariem…!

AR: Wikileaks membocorkan kawat diplomatik kedubes AS tertanggal 19 Februari 2006 yang mengutip pernyataan anggota BIN, Yahya Assegaf bahwa FPI adalah “attack dog” bagi kepolisian. Bagaimana menurut Abang?
MR : Pertama, penggunaan pilihan-pilihan kata yang digunakan oleh diplomat Amerika menurut saya adalah pilihan-pilihan kata yang sangat kasar, dengan “attack dog” tadi misalnya. Jadi, ini memang gaya Amerika, gaya koboi Amerika, yang memandang rendah semua yang di luar kelompok mereka. Kedua, yang perlu ditelusuri adalah sumber dari diplomat Amerika, karena Wikileaks mendapat sumber dari diplomat Amerika. Nah, diplomat Amerika ini mendapat sumber dari mana. Ternyata diplomat Amerika ini mendapat sumber dari orang BIN (Badan Intelejen Negara) yang bernama Yahya Assegaf. Itu disebut dalam kawat rahasia tersebut.

Saya perhatikan, paling tidak ada dua kali, nama Yahya Assegaf ini keluar dari Wikileaks dan disebut sebagai orang BIN, yang pertama dokumen tentang FPI ini, dan yang sebelumnya adalah dokumen bahwa di lingkungan istana penasehat utamanya adalah istri presiden, itu sumbernya juga Yahya Assegaf. Ini artinya, sumber informasi ini adalah dari orang Indonesia juga,dan celakanya, dia adalah orang BIN. Nah, yang perlu kita perhatikan adalah, kalau di Amerika, identitas anggota CIA tidak bisa dibuka, bahkan para aparat pemerintah yang ada di Amerika, kecuali direktur CIA, dan menteri pertahanan, dan presiden, tidak tahu siapa agen CIA itu. Nah, di Indonesia ini aneh, agen BIN, jelas-jelas menyatakan dirinya sebagai agen, itu diketahui oleh kedutaan asing.

Jadi artinya apa, fungsi-fungsi kontra intelejen tidak bisa dilakukan lagi oleh BIN ini, karena agen-agennya sudah diketahui orangnya siapa saja. Justru yang sekarang ini terjadi, agen BIN membocorkan atau lebih tepatnya menjual informasi kepada diplomat Amerika. Ini sebuah keadaan yang sangat memprihatinkan. Karena jika agen BIN telah menjual informasi kepada pihak asing, apalagi Amerika, maka ini sudah masuk kategori pengkhianatan, apalagi kalau dijual ke pihak AS yang dikenal selalu memiliki agenda untuk intervensi. Inilah kondisi Negara ini, agen-agen intelejennya dikuasai oleh pihak-pihak asing.

Ketiga, yang perlu dikritisi adalah akurasi berita yang disampaikan oleh Yahya Assegaf. Kenapa, Yahya ini dulu pernah mencoba menyusup kepada FPI untuk mengendalikan FPI tentunya, bahkan untuk mengaborsi FPI sebagai sebuah gerakan. Dengan cara apa, yakni dengan cara memprovokasi FPI supaya melakukan tindakan keras melawan polisi dengan cara zero sum game, mati atau hidup. Inikan provokasi yang dilakukan ketika FPI saat itu masih belum siap, baik dari sisi organisasi maupun segala macam, dan FPI tidak disiapkan untuk berkonfrontasi seperti itu. Karena dia gagal memprovokasi, maka kemudian dia mengatakan bahwa FPI adalah ‘attack dog’ polisi, karena tidak mau diprovokasi untuk melawan polisi. Itu sebetulnya kesimpulan Yahya Assegaf yang dijual kepada diplomat Amerika. Jadi bahasa bahwa FPI adalah ‘attack dog’ itu analisa Yahya Assegaf yang tidak bisa memprovokasi FPI untuk melawan polisi. Bahkan di dalam dokumen Wikileak disebut FPI akhirnya menjadi ‘monster’, ini artinya FPI tidak ada yang bisa mengendalikan, dan itu artinya kegagalan. Itu yang harus dilihat, jadi tidak ada yang bisa mengendalikan FPI!

Kemudian, pernyataan lainnya dari dia tentang FPI sudah jadi tradisi dibiaya oleh BIN dan polisi adalah hal yang tidak ada faktanya. Pernyataan itu keluar karena dia kecewa tidak bisa mengendalikan FPI dan dia ketahuan oleh para pengurus FPI bahwa dia adalah orang intelejen. Maka dia melakukan black propaganda, memfitnah FPI sebagai ‘attack dog’polisi. Jadi, ini poin penting dari dokumen yang telah dikeluarkan oleh Wikileaks.

AR : Apa motivasi Yahya Assegaf menyusup ke FPI?
MR: Sebetulnya dalam teori intelejen ada yang namanya aborsi gerakan, jadi yang dilakukan ke FPI dulu adalah menyusup lalu memprovokasi dan membunuh gerakan tersebut ketika sebelum waktunya, sebagaimana aborsi dalam pengertian medis, dikeluarkan sebelum waktunya. FPI diprovokasi untuk melakukan tindakan yang konfrontatif sebelum waktunya, jadi diharapkan, pada akhirnya tidak ada gerakan Islam di Indonesia yang mampu melakukan koreksi dan mampu menjalankan syariat Islam. Itu sebenarnya agenda utamanya.
AR: Apakah ada kaitan dengan Wikileaks yang selalu membocorkan informasi-informasi penting di negeri ini ?
MR: Saya kira begini, kalau kita lihat pola yang ada di Wikileaks maka mereka selalu mengambil sumbernya dari kawat diplomatik kedutaan Amerika di seluruh dunia, baik itu Indonesia, Malaysia, hampir semua Negara pernah dibocorkan oleh Wikileaks dan itu sumber satu-satunya adalah kawat diplomatik yang merupakan laporan diplomat-diplomat Amerika kepada Washington. Namun kita harus melihat dengan jernih, belum pernah ada bocoran kawat diplomatik oleh kedutaan Amerika di Tel Aviv, Israel. Jadi tidak pernah ada penilaian oleh diplomat Amerika terhadap kondisi Israel yang dibocorkan oleh Wikileaks.

Ini adalah sebuah fakta yang harus menjadi perhatian. Dari sini sebetulnya kita bisa melihat sebetulnya fungsi dari Wikileaks adalah membuat destabilisasi di rezim-rezim dimana Negara yang rezimnya sudah tidak disukai Amerika, untuk menggoyang. Ini ada pemanfaatan. Jadi, bisa saja ketika pendiri Wikileaks Julian Assange didakwa memperkosa dan sebagainya itu adalah sebuah skenario, karena di dalam gerakan zionis internasional, para tokohnya diperankan diburu dan tertindas. Jadi, mereka ingin mengesankan kepada publik bahwa tokoh mereka ditindas, sebagaimana Julian Assange yang dikejar dan di cap sebagai orang yang ditindas karena telah membocorkan informasi. Itu agar Julian dan Wikileaks tidak lagi dicurigai. Terbukti Amerika sampai saat ini juga tidak melakukan apapun kepada Julian Assange. Jadi ini memang pola mereka. Ini taktik khas geraka zionisme internasional, yakni memberi kesan bahwa mereka adalah korban. Jadi, apa yang keluar dari Wikileaks langsung saja diterima dan tidak dipertanyakan lagi. Padahal, kalau kita perhatikan hingga saat ini Wikileaks tidak pernah membocorkan kawat rahasia tentang Israel! Ini khas betul sebagai sebuah gerakan zionis internasional.

AR: Kembali ke Yahya Assegaf, pemberi informasi ke Wikileaks. Siapa dia sebenarnya? Ada informasi, anaknya ternyata juga anggota BIN dan ikut mendirikan organisasi zionis internsional.
MR: Informasi yang kita punya, dan ini sudah ditulis oleh bocoran Wikileaks bahwa kedubes Amerika mendapatkan informasi dari agen senior BIN yang bernama Yahya Assegaf. Jadi bukan kita yang menginformasikan bahwa Yahya ini agen BIN, melainkan Wikileaks sendiri. Informasi yang lain juga menyebutkan bahwa dia memang agen BIN, dan memang tugasnya dia adalah masuk ke berbagai pergerakan Islam, termasuk anaknya. Anaknya yang bernama Hani Yahya Assegaf, yang menggunakan nama Israel, Hansagov, bahkan mendirikan Indonesia Israel Public Affairs Comitte (IIPAC), sebuah LSM yang memiliki agenda untuk mempromosikan zionisme internasional. Itu ada di anggaran dasar IIPAC, tujuannya jelas adalah membangun hubungan dengan Israel dan pada tingkatan yang kongkrit secara politik sampai berdirinya kedutaan besar Israel di Indonesia. Bahkan dalam beberapa wawancara di media, orang-orang IIPAC menyatakan akan mempromosikan beberapa nama untuk menjadi presiden. Itu artinya, supaya ketika mereka memiliki pengaruh kepada kandidat presiden dan berhasil menjadikan kandidat tersebut presiden, maka harapan mereka akan terwujud, yakni mendirikan kedutaan Israel di Indonesia. Itulah agenda utamanya.

Beberapa  informasi lain bahkan menyebutkan bahwa Hani Yahya Assegaf ini juga menyusup ke berbagai aktivis Islam lainnya, termasuk aktivis-aktivis gerakan jihad, bahkan dikabarkan sempat tidur bersama, sempat membiayai. Bahkan dia sempat memberi uang sampai hampir 1.000 dollar kepada aktivis gerakan jihad, untuk mendapatkan informasi segala macam, membiayai keberangkatan ke luar negeri, membuatkan paspor palsu, kepada aktivis-aktivis gerakan Islam dan gerakan jihad, tujuan utamanya kembali kepada menggunakan taktik aborsi, agar ketika jaringannya diketahui lalu diprovokasi agar melakukan tindakan yang bisa dihukum, itu akan diserang dengan proses hukum agar gerakannya mati. Itu sebenarnya agenda mereka kepada gerakan Islam!

AR: Mengapa Wikileaks tiba-tiba keluarkan bocoran ini?
MR: Setelah beberapa waktu lalu media massa dipenuhi dengan agenda pembubaran ormas Islam, dan kini isu tersebut sudah menurun. Artinya mereka tidak berhasil menggunakan cara itu. Sekarang mereka mengubah taktik, dengan pembusukan. Oleh karena itu, mereka menyebarkan informasi yang kredibel tadi, yang orang tanpa reserve, yang orang tidak lagi kritis, dan akhirnya informasi tadi dikutip oleh pelbagai media, untuk menjatuhkan kredibilitas dengan menganggap gerakan-gerakan Islam adalah menjadi semata-mata alat suatu rezim tertentu saja, yang dalah hal ini adalah polisi. Itu yang mereka mau sebenarnya sekarang ini. Dan lagi-lagi cara-cara seperti ini, yakni menghancurkan kredibilitas gerakan Islam adalah ciri khas gerakan zionisme internasional.              
AR : Kalau begitu FPI difitnah?
MR: Dalam soal ini ya! Meski saya sendiri baru di FPI, tapi saya sudah klarifikasi ke pengurus-pengurus lama, dan mereka menyatakan bahwa tidak pernah ada itu, donator sebagaimana yang pernah mereka sebutkan, tidak pernah ada itu. Kalau benar ada, mungkin FPI gedungnya sudah 10 lantai. FPI juga tidak lagi repot minta sumbangan. Karena saat ini, kalau hendak mengadakan kegiatan tertentu, maka kita sumbangan, keluar dari kantong masing-masing, baik pengurus maupun jama’ah. Nah, itu yang coba mereka berangus, yakni eksistensi gerakan Islam, bukan cuma FPI saja.
AR: Kalau FPI sendiri memiliki prosedur standar operasional kalau ingin aksi?

MR: Jelas, ada di prosedur juang kita, ada 10 tahapan, 10 tahapan tersebut bisa memakan waktu sekitar 2 bulan sampai 1 tahun. Dimulai dengan berkirim surat terlebih dahulu, mengirimkan peringatan, mengirimkan surat protes kepada pejabat yang berwenang, sampai akhirnya demo dan aksi. Dalam setiap prosedur tersebut ada larangan melanggar hukum agama dan Negara. Jadi saya kira apa yang terjadi belakangan ini di berbagai tempat ada campur tangan dari agen-agen intelejen. Sebagaimana saya ceritakan tadi, dulu anaknya Yahya Assegaf, yakni Hani Assegaf, pernah menceritakan kepada seseorang bahwa dia pernah mencoba memprovokasi FPI agar melawan polisi dengan bambu runcing. Ini contoh dari penyusupan dan provokasi untuk melawan dengan membabi buta dan tanpa strategi.
AR: Melihat kondisi ini, apa pesan untuk ormas Islam dan kaum Muslimin?
MR: Saya kira yang penting untuk dibangun, baik itu aktivis Islam, maupun ormas Islam, adalah sense of intelegent, kemampuan atau daya sensitive untuk melakukan kontra terhadap intelejen. Saya kira ini yang masih lemah di pergerakan Islam. Karena saya kira aktivis pergerakan Islam ini berfikirnya husnudzon atau berprasangka baik, sebelum terbukti bersalah. Ini sah-sah saja dan juga tuntunan dari Rasulullah SAW. Hanya saja kita harus melihat kepada siapa kita harus su’udzon atau berprasangka buruk. Artinya kalau kepada fihak-fihak yang jelas-jelas memiliki agenda menentang penegakan syariat Islam, maka kita harus waspada betul. Hal ini juga dicontohkan sebagaimana dalam Al Qur’an Surat At Taubah, ayat 108 sampai 110.  
AR: Terakhir bang, bagaimana dengan Ahmadiyyah, FPI masih terus upayakan pembubarannya?
MR: Terus, itu terus. FPI akan menggunakan mekanisme yang disediakan untuk membubarkan Ahmadiyyah, yakni wewenang presiden. Untuk ditingkat awam umat Islam, kita sudah berhasil dengan mensosialisasikan bahwa Ahmadiyyah itu sesat. Orang sekarang sudah tahu semua bahwa Amadiyyah itu sesat. Satu agenda itu sudah tercapai. Tinggal lagi secara hukum, dan itu kewenangan Negara, kewenangan presiden untuk membubarkan Ahmadiyyah, dan itu akan kita desak terus! Jangan lupa juga, FPI melihat, di belakang Ahmadiyyah ini dan merupakan perisai mereka adalah kaum liberal, baik yang ada di lingkungan kekuasaan, kalangan LSM, maupun media. Mereka inilah yang melindungi Ahmadiyyah sebetulnya, sehingga Negara ini tidak mampu menjalankan tugasnya. Mereka-mereka inilah yang sebenarnya melanggar hukum, menentang hukum yang mereka buat sendiri. Mereka ini khawatir dengan gerakan Islam dan kebangkitan Islam. Jadi, mereka menginginkan gerakan Islam hilang atau hancur. Sehingga mereka berupaya mengaborsi gerakan Islam atau menghancurkan kredibilitasnya.              
AR: Jazakallah bang, Wassalamu’alaikum.wr.wb!
MR: Wa iyyakum, Wa’alaikumussalam.wr.wb!
More aboutMembongkar Wikileaks, Konspirasi Zionis Yahudi Israel dan Agen BIN dalam Mengaborsi Gerakan Islam

Ketika Lelaki Lebih "Didahulukan" Daripada Wanita

Penulis on Rabu, 31 Agustus 2011

Di masjid al Hidayah itu tak ada tempat buat wanita, Irsyad menjelaskan pada sang Bunda yang ngotot tetep ingin ikut I'tikaf.
“Bunda sholat dan I'tikaf di Rumah saja, Bunda, perempuan itu harus banyak-banyak di Rumah dan ibadah di Rumah, Bunda kan bisa jamaah dengan si Mbok.” Irsyad menjelaskan lagi pada Bunda yang hanya diam termangu.
Dalam hati Irsyad terharu dan bangga dengan semangat Bunda yang menggebu-gebu untuk perbanyak ibadah di bulan Ramadhan. Irsyad ingat dulu Bunda selalu diajak Ayah keliling untuk ibadah, dan melaksanakan sholat Magrib, berbuka dan tarawih keliling dan setiap 10 malam terakhir Ayah dan Bunda juga Irsyad dan ketiga adik lelakinya ikut semua I'tikaf di masjid tebesar di kecamatan makasar.
Irsyad ingat bagaimana Ayah selalu mencarikan dahulu tempat wudhu buat Bunda juga toilet, dipastikan toilet wanita yang biasanya ada paling pojok dan seringkali terkunci, masih layak dipakai oleh Bunda, dan Bunda manut saja, ikut saja, Ayah yang mengerjakan semuanya.
Irsyad juga teringat ketika Umrah, bagaimana susahnya mencarikan tempat sholat buat Bunda, apalagi ketika itu Ramadhan dan suasana sangat berdesakan, batin Irsyad, jamaah kayak cendol uwel-uwelan, namun karena nikmat ibadah sangat luar biasa, sehingga semua itu hilang dari pikiran, namun tetap saja selalu terpikirkan ketika melihat Bunda akhirnya malah hilang tidak tahu ada dimana, karena shaf sholat untuk perempuan sangat sedikit, dan Bunda terhalau oleh askar-askar yang menjaga barisan sholat, dengan teriakan, “Yallah, yaalaa…”sambil mengibas ngibaskan lengan bajunya yang lebar, dan otomatis Bunda dan sebagian jamaah wanita lainnya terusir jauh entah kemana…sampai pusing Irsyad dan Ayah mencari Bunda, dan akhirnya Bunda ditemukan tengah menatap Ka'bah dan berdoa, dan salah satu do'a Bunda adalah agar dipertemukan dengan anak-anak dan Suaminya. Bunda walau nyasar tidak takut dan kata Bunda, asal tetap ada di Masjidil Haram, hati Bunda tenang, cuma kita yang lelaki menjadi tidak tenang.
Memang nampaknya seperti ada diskriminasi di tempat sholat lelaki dengan wanita, sulit untuk mencari tempat sholat buat wanita, dimana-mana penuh, dan sebagian besar untuk lelaki.
Lama merenung, akhirnya Bunda yang menjawab pada Irsyad, “Lelaki adalah pemimpin bagi wanita, dan Allah menghendaki lelaki memiliki kekuatan dalam beribadah, maka Allah ganjar dengan janji kalau sholat jamaah akan dapat 27 kali lipat, namun sholat jamaah di Masjid diwajibkan bagi para lelaki saja, bahkan sampai ada ancaman dari Rasulullah saw.”
Hadist dari Sahabat Abu Hurairah r.a berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh saya ingin memerintahkan para pemuda untuk mengumpulkan kayu bakar yang banyak, kemudiaan saya akan mendatangi orang-orang yang shalat di rumahnya tanpa udzur dan saya bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah dan Turmudzi)
Tentu saja dengan keluar rumah dan sholat di Masjid para lelaki akan bertemu dengan sesama lelaki lainnya dan bisa membicarakan, memikirkan bersama dan mendiskusikan berbagai macam masalah dan memutuskan apa-apa yang baik buat umat dan masyarakat. Sedangkan perempuan hanya menunggu berita saja dan mengikuti dengan taat keputusan masyarakat yang diwakili oleh para lelaki, alias taat pada para Suami, apapun keputusan yang mereka buat, apalagi lelaki lebih rasional bukan?
Hal wajib lainnya adalah sholat Jum'at, diwajibkan bagi para lelaki bahkan ditambahkan dengan Khutbah Jumat yang wajib didengar, bila tidak didengarkan, maka tidak sah sholat jumatnya, ditambah lagi dengan ancaman bila 3X tidak jumatan, Ibnu ‘Abbas r.a, “Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at berturut-turut, sungguh dia telah mencampakkan Islam ke belakang punggungnya (kafir).” (HR. Abu Ya’la, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiih at-Targhiib No. 732)
Tentu saja hal itu sangat baik bagi para lelaki bagi para Suami sebagai pemimpin keluarga, bahwa dengan adanya sholat Jumat wajib bagi para Suami, diharapkan para Suami yang akan membimbing dan memimpin wanita, Istri-istrinya di rumah dan memberikan ilmu-ilmu dan keterangan agama, sehingga wanita mendapatkan ilmu utamanya dari para lelaki Suami nya yang sholat Jumat, maka alangkah baiknya bila Khutbah Jumat didengarkan dengan seksama untuk disampaikan bagi para wanita yang tidak ikut sholat Jum'at.
Irsyad tertegun dengan jawaban Bunda, Bunda memang luar biasa, bagi Bunda sholat tarawih di Masjid maupun I'tikaf memang lebih syahdu dan khusyu bila dilakukan di Masjid, namun bila dilakukan dirumahpun tidak apa-apa Bunda, yang penting hatinya, bukan tempatnya.

source : http://www.eramuslim.com/akhwat/wanita-bicara/ketika-lelaki-lebih-didahulukan-daripada-wanita.html
More aboutKetika Lelaki Lebih "Didahulukan" Daripada Wanita

Suka Duka Menjalani Ramadhan di Amerika

Penulis on Minggu, 28 Agustus 2011

Info : Suasana bulan puasa di negeri Paman Sam sangatlah berbeda dengan di negara-negara berpenduduk Muslim, terutama dengan ketiadaan penyesuaian jadwal. Pelajar dan mahasiswa Muslim tetap menjalani latihan seperti biasa, walaupun puasa tahun ini berlangsung sekitar 16 jam. Bagi sebagian warga Muslim, terutama yang imigran, komunitas Mesjid menjadi pelipur kekangenan pada suasana Ramadhan di negara asal.
More aboutSuka Duka Menjalani Ramadhan di Amerika

The Mosque Foundation dan Masjid Ramah Lingkungan

Penulis

Info : Masjid Hijau di AS berarti mesjid yang ramah lingkungan. Prinsip ini diketengahkan oleh Yayasan Masjid atau the Mosque Foundation di Chichago, negara bagian Illinois. Prinsip ini bias dilihat dari bentuk bangunan mesjid yang berjendela besar, dengan penggunaan karpet dari bahan daur ulang dan sumber listrik didapkan dari tenaga surya. Jemaah Mesjid ini juga diajari pentingnya hidup berdasarkan prinsip ramah lingkungan
More aboutThe Mosque Foundation dan Masjid Ramah Lingkungan

Wujud Cinta Generasi Muda Indonesia di AS di Bulan Suci Ramadan

Penulis

Info : Walaupun lahir dan dibesarkan di negeri Paman Sam, rasa cinta terhadap Indonesia tetap mengalir di darah anak-anak muda ini. Mereka mengekspresikannya lewat kegiatan Paskibra dan Aubade untuk perayaan 17 Agustus. Terlepas dari kesulitan bahasa, ataupun bahwa mereka tak pernah ikut baris-berbaris sebelumnya, anak-anak tetap menikmati dan menghayatinya.
More aboutWujud Cinta Generasi Muda Indonesia di AS di Bulan Suci Ramadan