Filosofi ''Jam Tangan'' Foke

Mengutip laporan Majalah TEMPO edisi 17 September 2012, Fauzi Bowo atau biasa disapa Foke memperkenalkan filosofi "arloji" atau yang istilah lainnya jam tangan kepada para bawahannya sejak pertama kali menjabat sebagai gubernur pada tahun 2007.
Sambil melepas Zenith dari tangan kanannya, ia menunjuk jam tangan yang bisa dilihat dari kaca belakang arloji buatan Swiss itu.
"Semua bagian dari jam tangan ini," kata pria berusia 64 tahun ini. "Harus bekerja baik agar bisa menunjukkan waktu yang tepat."
Fauzi melanjutkan, timnya terlalu optimistis dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta putaran pertama, 11 Juli lalu, karena selalu unggul dalam jajak pendapat.
Sebelum pemilihan, semua lembaga survei memperkirakan dia masih akan menjadi orang nomor satu di Ibu Kota. Namun hasil perhitungan suara Pilkada putaran pertama justeru membawa nama Joko Widodo - Basuki Tjahaja Purnama di posisi teratas dengan 42,6 persen suara. Fauzi - Nacrowi Ramli hanya mampu meraup 34,05 persen suara.
Masih dengan filosofi ''Jam Tangan'', kini Fauzi - Nacrowi berusaha mengatasi ketertinggalan.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang bertarung dalam pemilihan gubernur putaran kedua ini memiliki satu filosofi dalam menjalankan roda pemerintahan di DKI Jakarta.
Mengutip laporan Majalah TEMPO edisi 17 September 2012, Fauzi Bowo atau biasa disapa Foke memperkenalkan filosofi "arloji" atau yang istilah lainnya jam tangan kepada para bawahannya sejak pertama kali menjabat sebagai gubernur pada tahun 2007.
Sambil melepas Zenith dari tangan kanannya, ia menunjuk jam tangan yang bisa dilihat dari kaca belakang arloji buatan Swiss itu.
"Semua bagian dari jam tangan ini," kata pria berusia 64 tahun ini. "Harus bekerja baik agar bisa menunjukkan waktu yang tepat."
Fauzi melanjutkan, timnya terlalu optimistis dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta putaran pertama, 11 Juli lalu, karena selalu unggul dalam jajak pendapat.
Masih dengan filosofi ''Jam Tangan'', kini Fauzi - Nacrowi berusaha mengatasi ketertinggalan.
